Sebuah
pekerjaan rumah tangga yang kini mulai ditinggalkan wanita modern.
Hasan mengernyitkan kening ketika menyantap nasi goreng
buatan Rahmi, istri barunya. Di bibirnya tersungging sebuah senyum tipis,
sementara Rahmi memandang suaminya penuh rasa cemas. Benar dugaannya, hingga
kali ketiga ia memasakkan nasi goreng untuk suaminya ternyata belum juga bisa
terasa pas di lidah.
"Enak...," hibur suaminya sambil meneruskan,
"Cuma terlalu asin." Rahmi tersenyum kecut menahan malu. Setelah
hampir sebulan lalu keduanya menikah, baru tak lebih dari dua pekan mereka
menempati rumah kontrakannya. Sejak saat itu Rahmi memang harus memasak,
mencuci, dan menyeterika sendiri. Pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah ia sentuh
ketika masih gadis. Ibunya tak pernah mengajarkan pekerjaan-pekerjaan semacam
itu kepadanya, dan semasa kuliah pun habis waktunya untuk belajar melulu.
Beruntung, Hasan termasuk suami yang mau mengerti latar
belakang kehidupan istrinya, hingga selanjutnya justru Hasanlah yang mengajari
Rahmi berbagai resep masakan.
Di era globalisasi ini, semakin banyak gadis yang senasib
seperti Rahmi. Sekolah tinihkan, te
Jika dilihat dari kesibukan jadwal kuliah dan materi
pelajaran yang ekstra berat, kita mungkin bisa memahami mengapa gadis-gadis
pandai itu begitu giat belajar hingga melalaikan pekerjaan-pekerjaan teknis.
Dianggapnya pekerjaan-pekerjan itu hanya membuang waktu, buang tenaga, tidak
bermanfaat, dan terlalu remeh dibandingkan tugas belajar yang berat. Benarkah
pendapat itu?